Kamis, 29 Maret 2012

Manajemen Konflik

Nama       : Ardy Prayoga
Kelas       : 2EA17
NPM       : 19210227

Manajemen Konflik
Secara garis besar Konflik timbul karena adanya ketidaksesuaian kepentingan antara satu pihak dengan pihak lainnya. Dalam pengertian yang lebih dalam, konflik muncul karena tiga faktor, yaitu :
1. Faktor yang pertama adalah Perbedaan Kepentingan. Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat dan juga kepentingan antara satu pihak dengan pihak lainnya. Misal disatu sisi, ada penduduk yang tidak ingin diatas tanahnya dibangun Listrik Tegangan Ekstra Tinggi, sementara pihak PLN membutuhkannya demi kepentingan masyarakat pelanggan yang lebih luas. Disini terdapat perbedaan kepentingan, dan akhirnya bisa menyebabkan konflik.
2. Gap (Kesenjangan) antara Harapan dengan Kenyataan. Dalam hal ini, konflik dipicu oleh adanya ketidakpuasan masyarakat; artinya harapan mereka akan sesuatu tidak dapat dipenuhi secara maksimal. Misal, ada sebagian masyarakat yang memiliki harapan akan munculnya pelayanan listrik yang andal, namun kenyataannya tidak demikian; sehingga mereka tidak puas, dan kemudian mendorong mereka untuk protes, dan pada akhirnya bisa menciptakan konflik dengan penyedia jasa listrik.
3. Perebutan Sumber Daya yang Terbatas. Dalam hal ini beragam pihak melakukan perebutan sumber daya yang terbatas. Misal, dua pihak melakukan perebutan tanah kosong dan saling mengklaim pihaknya yang paling berhak untuk mendudukinya. Saling klaim ini akan mendorong mereka melakukan proses konflik.





Terdapat tiga pandangan mengenai konflik, yakni :

• Perspektif Traditional dimana memandang bahwa setiap konflik bersifat negatif dan harus dihindari.

• Perspektif Human Relations yang memandang bahwa konflik merupakan hal yang alamiah dan konsekuensi logis dari sebuah interaksi antar manusia. Jadi dengan demikian kita mesti siap dan mengantisipasi munculnya konflik ini, dan kemudian membekali diri dengan beragam ketrampilan yang diperlukan agar mampu mengelola konflik secara efektif.

• Perspektif Interaksionis yang melihat bahwa konflik merupakan yang positif dan justru dibutuhkan untuk meningkatkan efektivitas dan dinamika kelompok. Pandangan ini melihat bahwa adakalanya konflik membuat kita makin dewasa, dan memaksa kita untuk melakukan sesuatu secara lebih baik, dalam rangka menghindari konflik. Artinya dalam jangka panjang, konflik ini justru mendorong kita untuk memberikan kinerja yang lebih baik bagi pelanggan.

Terdapat dua jenis konflik, yakni :

• Konflik yang Fungsional yakni konflik yang berdampak positif bagi kinerja kelompok dan mendorong pencapaian sasaran kelompok. Artinya konflik ini justru mampu memicu kedua belah pihak untuk saling memperbaiki diri, dan pada gilirannya mampu meningkatkan kinerjanya.

• Konflik Disfungsional, yakni konflik yang berdampak negatif bagi kinerja kelompok. Konflik ini mengarah pada pertarungan yang destruktif, dimana masing-masing pihak mencoba dengan segala cara mengalahkan pihak lainnya. Yang akhirnya terjadi, konflik ini tidak menghasilkan penyelesaian yang memuaskan, dan justru membuang-buang waktu, energi dan biaya bagi kedua belah pihak.


Jenis Respon terhadap Konflik
Terdapat lima jenis respon, yakni : akomodasi, kolaborasi, kompromi, menghindar (aviodance) dan agresi. Lima jenis respon ini diambil dengan latar belakang alasan sbb.

Avoidance (menghindari konflik).
• Anda menganggap sepele masalah tersebut.
• Anda tidak mempunyai wewenang atas masalah tersebut atau tidak dapat mengubah hasilnya.
• Anda yakin kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik jauh melebihi keuntungan yang bakal didapat.
• Anda dapat menyerahkannya pada orang lain yang lebih berwewenang menyelesaikan konflik secara efektif.
• Anda menganggap masalah tersebut hanyalah masalah ‘kulit luar’ atau gejala saja dan lebih memilih menunggu untuk membicarakan masalah yang sebenarnya.

Accomodation (akomodasi/mengalah).
• Anda menyadari Anda salah atau ingin menunjukkan bahwa Anda mau bersikap wajar
• Anda sudah kalah dan mengalah untuk mencegah kerusakan lebih lanjut
• Anda ingin menjaga keharmonisan dan menghindari keretakan

Aggression.
• Anda ingin mengambil tindakan yang cepat dan tegas
• Anda harus menghadapi hal yang mendesak
• Anda bertanggung jawab untuk menjalankan peraturan atau tindakan disiplin yang tidak umum
• Anda melihat masalah tersebut sebagai vital dan Anda tahu Anda benar

Compromise.
• Tujuan Anda cukup penting tetapi dapat dipuaskan cukup dengan sebagian dari kesepakatan.
• Anda perlu mencapai penyelesaian sementara dari masalah yang kompleks.
• Anda membutuhkan solusi yang cepat dan isinya tidaklah sepenting kecepatan untuk mencapainya.

Collaboration atau menggunakan Teamwork.
• Anda yakin adanya kemungkinan pencapaian solusi integratif walau kedua belah pihak menemukan kesulitan untuk kompromi.
• Anda yakin lebih baik menggabungkan pandangan dari perspektif yang berbeda.
• Anda ingin memberdayakan salah satu ataupun kedua partisipan.
• Anda ingin menjadi panutan bagi yang lain dalam hal solusi kooperatif.
• Anda perlu membantu orang lain belajar bekerja sama.


Sumber :

Selasa, 20 Maret 2012

Pengertian dan Penjelasan Tentang Organisasi, Perilaku Individu, dan Interpersonal

Nama        : Ardy Prayoga
NPM        : 19210227
Kelas        : 2EA17


Organisasi

1.     Organisasi Menurut Stoner.
Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama.

2.     Organisasi Menurut James D. Mooney.
Organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.

3.     Organisasi Menurut Chester I. Bernard.
Organisasi merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Pengertian Organisasi.
Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan/interaksi, dan adanya batasan – batasan.
Contoh :
Dimana suatu saat di komplek perumahan saya, saya di pilih untuk menjadi ketua Karang Taruna. Disitu saya banyak mengadakan kegiatan – kegiatan positif seperti, mengadakan acara 17 Agustus, bakti sosial, kerja bakti, pengajian remaja, senam rutin, dll. Tak lupa juga di dalam suatu organisasi yang saya jalankan, disitu ada banyak teman – teman yang membantu saya yang juga mempunyai tujuan yang sama dengan saya yaitu untuk memajukan kreatifitas para warga yang ada di komplek perumahan saya, sekaligus untuk mempererat tali silaturahmi.





Perilaku Individu

Pengertian Perilaku Individu.
Menurut Gibson Cs. (1996),
Menyatakan perilaku individu adalahsegala sesuatu yang dilakukan seseorang, seperti : berbicara, berjalan,berfikir atau tindakan dari suatu sikap. Sedangkan menurut
Kurt Levin :perilaku ( Behavior = B ),
Individu pada dasarnya merupakan fungsi dariinterakasi antara Person/individu (P) yang bersangkutan dengan lingkungan (Enviroment = E).

Dari pengertian tersebut perilaku individu dapat diartikan sebagai suatu sikap atau tindakan serta segala sesuatu yang dilakukan manusia baik yang dilakukan dalam bekerja maupun diluar pekerjaan seperti berbicara, bertukar pendapat, berjalan dan sebagainya.
Setiap individu mempunyai karakteristik yang berbeda, sehingga setiap manusia mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Oleh sebab itu antara individu yang satu dengan yang lain pasti mempunyai perbedaan-perbedaan.

Ada beberapa alasan mengapa manusia berperilaku berbeda :
1. Manusia berbeda perilakunya karena kemampuannya tidak sama.
2. Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda
.
3. Orang berfikir tentang masa depan dan membuat pilihan tentangbagaimana bertindak
.
4. Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya denganpengalaman masa lalu dan kebutuhannya
.
5. Seseorang mempunyai reaksi-reaksi tidak senang
.
6. Banyak faktor yang menentukan sikap dan perilaku seseorang
.
PERILAKU INDIVIDU.
1. Perilaku individu adalah suatu sikap atau tindakan serta segala sesuatu yang dilakukan manusia baik yang dilakukan dalam bekerja maupundiluar pekerjaan.
2. Perilaku individu antara individu yang satu dengan yang lainmempunyai perbedaan. Perbedaan tersebut disebabkan perbedaankemampuan, kebutuhan, pengaruh masa lalu maupun pengaruh
biografis.
3. Kemampuan individu meliputi kemampuan intelektual ( intellectual abilities) dan kemampuan fisik ( physic abilities)
4. Karakteristik biografis individu ( biographycal characteristics)
meliputiusia, ras, gender, dan masa jabatan
.
5. Dalam memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan,
yang saling bertolak belakang, yaitu: behaviorisme dan holistik atauhumanisme. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luasterhadap proses pendidikan.




Interpersonal
Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan kepada pihak lain untuk mendapatkan umpan balik, baik secara langsung (face to face) maupun dengan media. Berdasarkan definisi ini maka terdapat kelompok maya atau faktual (Burgon & Huffner, 2002). Contoh kelompok maya, misalnya komunikasi melalui internet (chatting, face book, email, etc.). Berkembangnya kelompok maya ini karena perkembangan teknologi media komunikasi.
Terdapat definisi lain tentang komunikasi interpersonal, yaitu suatu proses komunikasi yang bersetting pada objek-objek sosial untuk mengetahui pemaknaan suatu stimulus (dalam hal ini: informasi/pesan) (McDavid & Harari).
          Fungsi Komunikasi interpersonal sebagai berikut :
  1. Untuk mendapatkan respon/ umpan balik. Hal ini sebagai salah satu tanda efektivitas proses komunikasi. Bayangkan bagaimana kalau tidak ada umpan balik, saat Anda berkomunikasi dengan orang lain. Bagaimana kalau Anda sms ke orang lain tetapi tidak dibalas?
  2. Untuk melakukan antisipasi setelah mengevaluasi respon/ umpan balik. Contohnya, setelah apa yang akan kita lakukan setelah mengetahui lawan bicara kita kurang nyaman diajak berbincang.
  3. Untuk melakukan kontrol terhadap lingkungan sosial, yaitu kita dapat melakukan modifikasi perilaku orang lain dengan cara persuasi. Misalnya, iklan yang arahnya membujuk orang lain.
Maha bijaksana Tuhan yang telah mengatur proses komunikasi intrapersonal yang melibatkan beberapa unsur atau elemen sebagai berikut (Burgon & Huffner, 2002).
  1. Sensasi, yaitu proses menangkap stimulus (pesan/informasi verbal maupun non verbal). Pada saat berada pada proses sensasi ini maka panca indera manusia sangat dibutuhkan, khususnya mata dan telinga.
  2. Persepsi, yaitu proses memberikan makna terhadap informasi yang ditangkap oleh sensasi. Pemberian makna ini melibatkan unsur subyektif. Contohnya, evaluasi komunikan terhadap proses komunikasi, nyaman tidakkah proses komunikasi  dengan orang tersebut?
  3. Memori, yaitu proses penyimpanan informasi dan evaluasinya dalam kognitif individu. Kemudian informasi dan evaluasi komunikasi tersebut akan dikeluarkan atau diingat kembali pada suatu saat, baik sadar maupun tidak sadar. Proses pengingatan kembali ini yang disebut sebagai recalling.
  4. Berpikir, yaitu proses mengolah dan memanipulasi informasi untuk memenuhi kebutuhan atau menyelesaikan masalah. Proses ini meliputi pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan berfikir kreatif. Setelah mendapatkan evaluasi terhadap proses komunikasi interpersonal maka ada antisipasi terhadap proses komunikasi yang selanjutnya. Contohnya, jika kita merasa tidak nyaman berkomunikasi dengan dosen maka kita mempunyai cara untuk antisipasi agar komunikasi di kemudian hari menjadi lancar.
             Seringkali komunikan tidak saling memahami maksud pesan atau informasi dari lawan bicaranya. Hal ini disebabkan beberapa masalah antara :
       A. Komunikator.
  1. Hambatan biologis, misalnya komunikator gagap.
  2. Hambatan psikologis, misalnya komunikator yang gugup.
  3. Hambatan gender, misalnya perempuan tidak bersedia terbuka terhadap lawan bicaranya yang laki-laki.
       B. Media.
  1. Hambatan teknis, misalnya masalah pada teknologi komunikasi (microphone, telepon, power point, dan lain sebagainya).
  2. Hambatan geografis, misalnya blank spot pada daerah tertentu sehingga signal HP tidak dapat ditangkap.
  3. Hambatan simbol/ bahasa, yaitu perbedaan bahasa yang digunakan pada komunitas tertentu. Misalnya kata-kata “wis mari” versi orang Jawa Tengah diartikan sebagai sudah sembuh dari sakit sedangkan versi orang Jawa Timur diartikan sudah selesai mengerjakan sesuatu.
  4. Hambatan budaya, yaitu perbedaan budaya yang mempengaruhi proses komunikasi.

       C. Komunikate.
  1. Hambatan biologis, misalnya komunikate yang tuli.
  2. Hambatan psikologis, misalnya komunikate yang tidak berkonsentrasi dengan pembicaraan.
  3. Hambatan gender, misalnya seorang perempuan akan tersipu malu jika membicarakan masalah seksual dengan seorang lelaki.

                    http://www.scribd.com/doc/44353974/Dasar…
                    M. Ghojali Bagus A.P., S.Psi. Buku Ajar Psikologi Komunikasi – Fakultas Psikologi Unair 2010.
                    http://www.psikologizone.com/definisi-komunikasi-interpersonal/06511922

Sabtu, 30 April 2011

Biodata Guru Bahasa Inggris

Full name : Rusdiana
Place, date of birth : Jakarta, 5 Mei 1985
Sex : Female
Address : jl. Elang 8 E.217 PTI 1 Bekasi Timur
Religion : Islam
Nationality : Indonesia
Marital status : Single
Last educational : Univ. Negeri Jakarta (1980-1984)

Experience In English Teaching :

I was teaching in LPIA. It was my first time to teach, I only teach 8 mounth. There’s so many memoriam but of course I also have bad memories of teaching According to me, the most difficult thing in teaching is to make the children stay calm and keep the spirit in my lessons.





Penulis : Ardy Prayoga
NPM : 19210227

Selasa, 29 Maret 2011

Adverbial Clause

Adverbial Clause adalah Clause (anak kalimat) yang berfungsi sebagai Adverb, yakni menerangkan kata kerja.

Adverbial Clause biasanya diklasifikasikan berdasarkan "arti/maksud" dari Conjunction (kata penghubung yang mendahuluinya).

Jenis-jenis Adverbial Clause antara lain:

1. Clause of Time

Clause yang menunjukkan waktu. Biasanya dibuat dengan menggunakan conjunction (kata penghubung) seperti after, before, no sooner, while, as, dll.

Contoh:

* Shut the door before you go out.
* You may begin when(ever) you are ready.
* While he was walking home, he saw an accident.
* By the time I arrive, Alex will have left.
* No sooner had she entered than he gave an order.

2. Clause of Place

Clause yang menunjukkan tempat. Biasanya dibuat dengan menggunakan conjunction seperti where, nowhere, anywhere, wherever, dll.

Contoh:

* They sat down wherever they could find empty seats
* The guard stood where he was positioned.
* Where there is a will, there is a way.
* Where there is poverty, there we find discontent and unrest.
* Go where you like.

3. Clause of Contrast (or Concession)

Clause yang menunjukkan adanya pertentangan antara dua kejadian atau peristiwa yang saling berhubungan. Biasanya dibuat dengan menggunakan conjunction (kata penghubung) seperti although, though, even though, whereas, even if, in spite of, as the time, dll.

Contoh:

* As the time you were sleeping, we were working hard.
* Mary wanted to stop, whereas I wanted to go on.
* Although it is late, we'll stay a little longer.
* He is very friendly, even if he is a clever student.

4. Clause of Manner

Clause yang menunjukkan cars bagaimana suatu pekerjaan dilakukan atau peristiwa terjadi. Biasanya dibuat dengan menggunakan conjunction (kata penghubung) seperti as, how, like, in that, dll.

Contoh:

* He did as I told him.
* You may finish it how you like.
* They may beat us again, like they did in 1978.

5. Clause of Purpose and Result

Clause yang menunjukkan hubungan maksud/tujuan dan hasil. Biasanya dibuat dengan menggunakan kata penghubung seperti (in order) that, so that, in the hope that, to the end that, lest, in case, dll.

Contoh:

* They went to the movie early (in order) to find the best seats.
* She bought a book so (that) she could learn English
* He is saving his money so that he may take a long vacation.
* I am working night and day in the hope that I can finish this book soon.

6. Clause of Cause and Effect

Clause yang menunjukkan hubungan sebab dan akibat. Ada beberapa pola membentuk Clause jenis ini. Perhatikan baik-baik.

Contoh:

* Ryan ran so fast that he broke the previous speed record.
* It was so cold yesterday that I didn't want to swim.
* The soup tastes so good that everyone will ask for more.
* The student had behaved so badly that he was dismissed from the class.

Contoh:

* The Smiths had so many children that they formed their own baseball team.
* I had so few job offers that it wasn't difficult to select one.

Contoh:

* He has invested so much money in the project that he cannot abandon it now.
* The grass received so little water that it turned brown in the heat.

Contoh:

* It was such a hot day that we decided to stay indoors. ATAU It was so hot a day that we decided to stay indoors.
* It was such an interesting book that he couldn't put it down. ATAU It was so interesting a book that he couldn't put it down.

Contoh:

* She has such exceptional abilities that everyone is jealous of her.
* They are such beautiful pictures that everybody will want one.
* Perry has had such bad luck that he's decided not to gamble.
* This is such difficult homework that I will never finish it.

Di samping itu, untuk mengungkapkan hubungan cause and effect (sebab dan akibat) dapat digunakan pola lain, yaitu:

1. Menggunakan Preposition (kata depan) seperti because of, due to, due to the fact that, dll

Contoh:

* Because of the cold weather, we stayed home. (=We stayed home because of the cold weather)
* Due to the cold weather, we stayed home. (=We stayed home due to the cold weather)
* Due to the fact that the weather was cold, we stayed home. (=We stayed home due to the fact that the weather was cold)

2. Menggunakan kata penghubung (conjunction) seperti because, since, now, that, as, as long as, inasmuch as

Contoh:

* Because he was sleepy, he went to bed.
* Since he's not interested in classical music, he decided not to go to the concert.
* As she had nothing in particular to do, she called up a friend and asked her if she wanted to take in a movie.
* Inasmuch as the two government leaders could not reach an agreement, the possibilities for peace are still remote.

3. Menggunakan transition words seperti therefore, consequently.

Contoh:

* Alex failed the test because he didn't study.
* Alex didn't study. Therefore, he failed the test.
* Alex didn't study. Consequently, he failed the test.

Catatan:



Beberapa Adverb Clause dapat diubah menjadi Modifying Phrases dengan cara:

1) Menghilangkan subjek dari dependent Clause dan verb (be).

Contoh:

a. ADVERB CLAUSE : While I was walking to class, I ran into an old friend.

b. MODIFYING PHRASE : While walking to class, I ran into an old friend.

2) Jika dalam Adverb Clause tidak ada be, hilangkanlah subjek dan ubahlah verb dalam Adverb Clause itu menjadi bentuk -ing.

Contoh:

a. ADVERB CLAUSE : Before I left for work, I ate breakfast.

b. MODIFYING PHRASE : Before leaving for work, I ate breakfast.

Adverb Clause dapat diubah menjadi Modifying Phrase jika subjek dari adverb Clause dan subjek dari main Clause sama.

Contoh:

1. DAPAT DIRUBAH

* While I was sitting in class, I fell asleep MENJADI While sitting in class, I fell asleep.
* While Ann was sitting in class, she fell asleep MENJADI While sitting in class, Ann fell asleep.
* Since Mary came to this country, she has made many friends MENJADI Since coming to this country, Mary has made many friends.

2. TIDAK DAPAT DIRUBAH

* While the teacher was lecturing to the class, I fell asleep.
* While we were walking home, a frog hopped across the road in front of us.



7. Clause of Condition

Clause yang menunjukkan adanya persyaratan antara dua kejadian (peristiwa) yang berhubungan. Biasanya dibuat dengan menggunakan conjunctions seperti if, even if, unless, in the even that, or in even that, in case, provided (that), providing (that), on condition that, if only, suppose (that), supposing (that), dll.

Contoh:

* If I see him, I will invite him to the party tomorrow.
* She would forgive her husband everything, if only he would come back to her.
* Suppose (that) your house burns down, do you have enough insurance to cover such a loss.
* In case a robbery occurs in the hotel, the management must be notified at once.
* The company will agree to arbitration on condition (that) the strike is called off at once.
* We should be able to do the job for you quickly, provided (that) you give us all the necessary information.





Sumber : http://ismailmidi.com/berita-89-adverb-clause.html

Kamis, 30 Desember 2010

Manusia dan harapan

Manusia dan Harapan
Manusia dan Harapan
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Harapan berasal dari kata harap yaitu keinginan supaya sesuatu terjadi atau sesuatu terjadi atau suatu yang belum terwujud. Kata orang manusia tanpa harapan adalah manusia yang mati sebelum waktu-nya. Bisa jadi, karena harapan adalah sesuatu yang hendak kita raih dan terpampang dimuka. Hampir sama dengan visi walau dalam spektrum sederhana, harapan merupakan cip-taan yang kita buat sebagai sesuatu yang hendak kita raih. Jadi hidup tanpa harapan adalah hidup tanpa visi dan tujuan.
Maka bila manusia yang hidup tanpa harapan pada hakekatnya dia sudah mati. Harapan bukanlah sesuatu yang terucap dimulut saja tetapi juga berangkat dari usaha. Dia adalah ke-cenderungan batin untuk membuat sebuah rencana aksi, peristiwa, atau sesuatu menjadi lebih bagus. Sederhananya, harapan membuat kita berpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih baik untuk meraih sesuatu yang lebih baik.
Harapan dan rasa optimis juga memberikan kita kekuatan untuk melawan setiap hambatan. Seolah kita selalu mendapatkan jalam keluar untuk setiap masalah. Seolah kita punya kekuatan yang lebih untuk siap menghadapi resiko. Ini kita sebut sebagai perlawanan. Orang yang hidup tanpa optimisme dan cenderung pasrah pada realita maka dia cenderung untuk bersikap pasif, Oleh karena itu dalam makalah ini kita dapat mengetahui lebih dalam tentang manusia dan harapan
B. PEMBATASAN MASALAH
Agar tidak terjadi kesalahpahaman maka pembahasan masalah kami membatasi dan menetapkan objeknya Sbb : definisi harapan , harapan sebagai fenomena nasional, kepercayaan,manusia dan harapan,nilai-nilai budaya sebagai tolak ukur dan harapan terakhir
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pembatasan masalah diatas, kami merangkum beberapa rumusan masalah yang diangkat antara lain :
1. Pengertian dan makna harapan
2. Harapan sebagai fenomena nasional
3. kepercayaan
4. manusia dan harapan
5. nilai-nilai budaya sebagai tolak ukur
6. harapan terakhir
D. TUJUAN PENULISAN
Penulisan makalah mengenai manusia dan tanggungjawab ini mempunyai tujuan antara lain :
1. Mengetahui dan memahami makna harapan
2. Mengetahui dan memahami makna harapan sebagai fenomena nasional
3. Mengetahui dan memahami makna kepercayaan
4. Mengetahui dan memahami makna manusia dan harapan
5. Memahami makna nilai-nilai budaya sebagai tolak ukur
6. Memahami harapan terakhir
I. Definisi harapan
Harapan berasal dari kata harap yaitu keinginan supaya sesuatu terjadi atau sesuatu terjadi atau suatu yang belum terwujud. Harapan dapat diartikan sebagai menginginkan sesuatu yang dipercayai dan dianggap benar dan jujur oleh setiap manusia dan harapan agar dapat dicapai ,memerlukan kepercayaan kepada diri sendiri,kepercayaan kepada orang lain dan kepercayaan kepada TUHAN.
Contoh;
Budi seorang mahasiswa universitas terbuka,ia belajar dengan rajin dengan harapan agar nantinya sewaktu ujian semester ia memperoleh nilai A.
Menurut kodratnya dalam diri manusia terdapat 2 dorongan,yaitu dorongan kodrat serta dorongan kebutuhan hidup.terkait dengan kebutuhan manusia tersebut , abraham maslow mengkategorikan kebutuhan manusia menjadi 5 macam atau disebut juga 5 harapan manusia, yaitu;
1.harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup
2.harapan untuk memperoleh keamanan
3.hak untuk mencintai dan dicintai
4.harapan diterima lingkungan
5.harapan memperoleh perwujudan cita-cita
Dalam mencukupi kebutuhan kodrat maupun kebutuhan, manusia membutuhkan orang laen
II.HARAPAN SEBAGAI FENOMENA NASIONAL
Artinya harapan ialah sesuatu yang wajar berkembang dalam diri manusia dimanapun berada.mengutip pandangan A.F.C. Wallace dalam bukunya culture and personality , mas abhoe dhari menegaskan bahwa kebutuhan merupakan salah satu isi pokok dari unsur kepribadian yang merupakan sasaran dari kehendak, harapan ,keinginan,serta emossi seseorang. kebutuhan indifidu dapat dapat dijabarkan lebih lanjut menjadi:
a)kebutuhan organik individu
1.kebutuhan individu bernilai positive
2.kebutuhan individu bernilai negative
b) Kebutuhan psikologi individu
1)kebutuhan psikologi indifidu bersifat positif
III.KEPERCAYAAN
Kepercayaan berasal dari kata percaya,artinya mengakui atau meyakini akan sesuatu kebenaran. Kepercayaan ialah hal-hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Kebenaran menurut Peodjawiyatna adalah merupakan cita – cita orang yang tahu, dalam hal ini kebenaran merupakan kebenaran logis, sehingga manusia selalu memilih sebelum melakukan tindakan apakah tindakan ini salah atau benar menurut keyakinannya.
Dalam bidang logika kebenaran ialah persesuaian antara tahu dan objek yang diketahui (kebenaran logis). kebenaran logis disebut juga kebenaran objektif dan kebenaran etis juga disebut kebenaran subjektif. Jika tidak ada persesuaian antara putusa dan objeknya yang diketahui, maka terdapat dua kemungkinan, yaitu:
1. orang yang mengutarakan putusan keliru
2. orang yang mengutarakan putusan sengaja mengutarakan tidak sesuai dengan realita yang diketahuinya.
Dasar kepercayaan ialah kebenaran dan sumber kebenaran adalah manusia, oleh karena itu keepercayaan dibedakan atas:
1. kepercayaan pada diri sendiri, yaitu kepercayaan yang harus ditanamkan pada setiap pribadi manusia. hakikatnya kepercayaan kepada tuhan Yang Maha Esa.
2. Kepercayaan pada orang lain, yaitu percaya pada kata hatinya yang berbentuk pada perbuatan kebenaran kepada orang lain. Misalnya pada saudara, teman, orang tua atau siapa saja.
3. Kepercayaan pada pemerintah
4. kepercayaan kepada tuhan, yaitu meyakini bahwa manusia diciptakan oleh tuhan dan manusia harus bertakwa pada tuhannya. Salah satu cara bertakwa adalah mengukuhkan imannya bahwa tuhan merupakan zat yang merupakan kebenaran mutlak
IV. Manusia dan Harapan
Harapan itu bersifat manusiawi dan dimiliki semua orang. Dalam hubungannya dengan pendidikan moral, untuk mewujudkan harapan perlu di wujudkan hal – hal sebagai berikut:
a. harapan apa yang baik
b. bagaimana mencapai harapan itu
c. bagaimana bila harapan itu tidak tercapai.
Jika manusia mengingat bahwa kehidupan tidak hanya di dunia saja namun di akhirat juga, maka sudah selayaknya “harapan” manusia untuk hidup di kedua tempat tersebut bahagia. Dengan begitu manusia dapat menyelaraskan kehidupan antara dunia dan akhirat dan selalu berharap bahwa hari esok lebih baik dari pada hari ini, namun kita harus sadar bahwa harapan tidak selamanya menjadi kenyataan.
V. Nilai – Nilai Budaya Sebagai Tolak Ukur Harapan
Dalam hasil budaya yang berupa sastra, dapat dihayati adanya kandungan nilai budaya yang dibawa penulisnya sebagai gagasan utama. Dalam sastra jawa misalnya antara lain terdapat nilai budaya meliputi:
a. nilai kejuangan dan semangat pengorbanan,
yaitu nilai perjuangan sebagai tolak ukur dan diharapkan dimiliki masyarakat, seperti kesetiaan, kesungguhan, kedisiplinan,dll
b. nilai kerumahtanggaan
yaitu nilai yang diharapkan berkembang dalam etiap keluarga.
c. Nilai kemandirian kaum wanita
Yaitu, Nilai yang diharapkan dapat dimiliki setiap wanita.
VI. Harapan Terakhir
Dalam hidup di dunia, manusia didadapkan pada persoalan yang beragam baik itu masalah positif maupun negative. Untuk menghadapi persoalan hidup tersebut manusia perlu belajar dari manusia lainnya baik formal maupun informal agar memiliki kehidupan yang sejahtera menurut Aristoteles, hidup dan kehidupan itu berasal dari generation spontanea, yang berarti kehidupan itu terjadi dengan sendirinya. Kebutuhan manusia terbagi atas kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Ada yang dalam pandangan hidupnya hanya ingin memuaskan kehidupan duniawi namun juga ada yang sebaliknya. Terkait dengan tingkat kesadaran kehidupan beragama, manusia akan semakin yakin bahwa mereka akan mati. Dunia serba gemerlap hanya akan ditinggalkan dan akan hidup abadi di alam akhirat.
Dengan pengetahuan serta pengertian agama tentang adanya kehidupan abadi di akhirat, manusia menjalankan ibadahnya. Ia akan menjalankan perintah Tuhan melalui agama, serta menjauhkan diri dari larangan yang diberikan-Nya. Manusia menjalankan hal itu karena sadar sebagai makhluk yang tidak berdaya di hadapan Tuhan. Kehidupan dunia yang sifatnya sementara dikalahkannya demi kehidupan yang abadi di akherat karena tahu bagaimana beratnya siksaan di neraka dan bagaimana bahagianya di surga. Kebaikan di surga yang abadi inilah yang merupakan harapan terakhir manusia.

Manusia dan kegelisahan

Salah satu dari bagia kehidupan manusia yang sekian banyak dialami oleh manusia salah satunya adalah kegelisahan. Kegelisahan disini bukan ke-geli – geli basah-an.
Kegelisahan dalam diri manusia dapat timbul sewaktu – waktu tanpa atau dengan diharpkan kehadirannya. Banyak faktor yang yang mempengaruhi dan menimbulkan kegelisahan dalam diri manusia. Adanya rasa gelisah yang dirasakan dan dialami oleh manusia pada dasarnya disebabkan oleh manusianya itu sendiri karena semua manusia memiliki hati, perasaan dan pikiran.
Kegelisahan pada diri manusia biasanya sangat erat kaitannya dengan sebauh kata “Tanggung Jawab”. Baik secara individual, sosial maupun religius. Jika usaha yang telah kita lakukan untuk mempertanggung jawabkan mengalami kesulitan dan kendala, kegagalan atau tidak berhasil maka secara langsung otak kita akan terkoneksi dengan yang direspon “Kegagalan dan permasalahan”. Dengan kata lain terkoneksi dengan hati, perasaan dan pikiran. Baik disadari atau tidak disadari. Begitu pula jika yang telah dilakukan telah memcapai titik maksimum dan berhasil maka kita sendiri tidak luput dari permasalahan dan kegelisahan, sebagai conth kegelisahan untuk mempertahankannya dan sebaginya.
Bentuk – bentuk kegelisahan dalam diri manusia dapat mnjelma dalam suatu bentuk, seperti ;
1. Keterasingan
Terasing, diasingkan atau sedang dalam keterasingan sudah ada sejak puluhan bahkan ribuan tahun lamanya. Dimana terasing pada dasarnya dapat didefinisikan sebagi bentuk kehilangan eksistensi diri yang disebabkan tidak adanya pengakuan tentang keberadaan kita “secara hakikat” atau dengan kata lain merasa tersisihkan dan termarjinalkan oleh diri sendiri dan orang lain dalam pergaulan atau mayarakat. Keterasingan disebabkan oleh dua faktor, yaitu (1) Faktor intern, atau fakor yang berasal dari dalam diri sendiri seperti merasa berbeda dengan orang lain, rendah diri dan bersikap apatis dengan lingkungan. (2) Faktor ekstern, yaitu faktor yang berasal dari luar diri. Faktor ini pun bias bersumber pad afaktor yang pertama.
2. Kesepian
Aplikasi dan perwujudan dari terasing adalah kesepian. Jika seseorang sudah merasa diasingkan maka orang tersebut akan mengalami kesepian dalam diri dan lingkunga sehingga merasa sepia tau kesepian. Jika hal ini terus dibiarkan maka orang tersebut akan kehilangan unsur dan karakter unik dalam dirinya senhingga dia pun sulit untuk mengenali dirinya.
3. Masih banyak lagi…
gberasal dari bahasa gelisah yang artinya tidak nyaman, tidaktenteram, merasa cemas, khwatir yang porsinya berlebihan dan terus – menerus. Dapat dikatakan sebagai suatu kewajaran jika setiap manusia mengalami kegelisahan dalam diri dan hidupnya dan hal ini dikarenakan sebagai resiko yang harus diterimanya atau kodrat.

Manusia dan tanggung jawab

Tanggung jawab adalah sifat terpuji yang mendasar dalam diri manusia. Selaras dengan fitrah. Tapi bisa juga tergeser oleh faktor eksternal. Setiap individu memiliki sifat ini. Ia akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin meningkat. Ia akan selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap insan tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut kepedulian dan tanggung jawab. Inilah yang menyebabkan frekwensi tanggung jawab masing-masing individu berbeda.

Tanggung jawab mempunyai kaitan yang sangat erat dengan perasaan. Yang kami maksud adalah perasaan nurani kita, hati kita, yang mempunyai pengaruh besar dalam mengarahkan sikap kita menuju hal positif. Nabi bersabda: "Mintalah petunjuk pada hati (nurani)mu."

Dalam wacana keislaman, tanggung jawab adalah tanggung jawab personal. Seorang muslim tidak akan dibebani tanggung jawab orang lain. Allah berfirman: "Setiap jiwa adalah barang gadai bagi apa yang ia kerjakan." Dan setiap pojok dari ruang kehidupan tidak akan lepas dari tanggung jawab. Kullukum râ'in wa kullukum mas'ûlun 'an Ro‘iyyatih.....

Tanggung jawab bisa dikelompokkan dalam dua hal. Pertama, tanggung jawab individu terhadap dirinya pribadi. Dia harus bertanggung jawab terhadap akal(pikiran)nya, ilmu, raga, harta, waktu, dan kehidupannya secara umum. Rasulullah bersabda: "Bani Adam tidak akan lepas dari empat pertanyaan (pada hari kiamat nanti); Tentang umur, untuk apa ia habiskan; Tentang masa muda, bagaimana ia pergunakan; Tentang harta, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia gunakan; Tentang ilmu, untuk apa ia amalkan."

Kedua, tanggung jawab manusia kepada orang lain dan lingkungan (sosial) di mana ia hidup. Kita ketahui bersama bahwa manusia adalah makhluq yang membutuhkan orang lain dalam hidupnya untuk pengembangan dirinya. Dengan kata lain, ia mempunyai kewajiban-kewajiban moral terhadap lingkungan sosialnya. Kewajiban sangat erat kaitannya dengan eksistensi seseorang sebagai bagian dari masyarakat. Kita sadar bahwa kalau kita tidak melaksanakan tanggung jawab terhadap orang lain, tidak pantas bagi kita menuntut orang lain untuk bertanggung jawab pada kita. Kalau kita tidak berlaku adil pada orang lain, jangan harap orang lain akan berbuat adil pada kita.

Ada sebagian orang yang berkata bahwa kesalahan-kesalahan yang ia lakukan adalah takdir yang telah ditentukan Tuhan kepadanya. Dan dia tidak bisa menolaknya. Satu misal sejarah; suatu ketika di masa Umar bin Khattab, seorang pencuri tertangkap dan kemudian dibawa ke hadapan khalifah. Beliau bertanya: "Mengapa kamu mencuri?", pencuri itu menjawab "Ini adalah takdir. Saya tidak bisa menolaknya." Khalifah Umar kemudian menyuruh sahabat-sahabat untuk menjilidnya 30 kali. Para sahabat heran dan bertanya "Mengapa dijilid? bukankah itu menyalahi aturan?" Khlaifah menjawab "Karena ia telah berdusta kepada Allah."

Seorang muslim tidak boleh melepas tangan (menghindar dari tanggung jawab) dengan beralasan bahwa kesalahan yang ia kerjakan adalah takdir yang ditentukan Allah kepadanya. Tanggung jawab tetap harus ditegakkan. Allah hanya menentukan suratan ulisan) tentang apa yang akan dikerjakan manusia berdasarkan keinginan mereka yang merdeka, tidak ada paksaan. Dari sinilah manusia dituntut untuk bertanggung jawab terhadap apa yang ia lakukan. Mulai dari hal yang sangat kecil sampai yang paling besar. "Barang siap yang berbuat kebaikan, walau sebesar biji atom, dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang berbuat kejelekan, walau sebesar biji atom, maka ia akan melihatnya pula" (al Zalzalah 7-8).